Secara keseluruhan, kurangnya dukungan perusahaan dan pengetahuan crew berkontribusi pada resiko keselamatan yang serius terkait tali tambat.
Faktor metode, yaitu SOP tidak konsisten serta verifikasi koordinasi belum optimal.
Saran yang diberikan meliputi penguatan jadwal inspeksi dan pelumasan, peningkatan kesadaran awak kapal, serta optimalisasi ketersediaan suku cadang seperti wire rope untuk mencegah penundaan.
Oleh karena itu, peningkatan pengawasan, evaluasi, serta pelatihan yang berstruktur sangat diperlukan guna meningkatkan efektivitas pembersihan ruang muat sesuai standar.
Penilitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan keselamatan pelayaran di perairan terbatas dan memperkuat implementasi P2TL secara efektif.
Nilai gap antara persepsi dengan kepentingan terendah ada pada dimensi keandalan, sebesar -0,09.
Sisanya, yaitu 79,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian
, menyematkan studi kasus maritim dan tugas analogis untuk menjembatani pembelajaran maatematika dengan kompetensi pelaut sebagaimana diamanatkan oleh standar IMO.
Penelitian ini menggunakan jenia penelitian kualitatif deskriptif sebagai pemecahan masalah yang terjadi diatas kapal dan menggunakan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi yang diambil pada saat peneliti melaksanakan praktek laut diatas kapal MT Tirtasari selama 12 bulan 5 hari yang terhitung sejak 5 oktober 2023 hingga 10 oktober 2024.
Hasil dari proyek ini diharapkan dapat menjadi referensi pembelajaran terapan untuk pengembangan teknologi tepat guna dibidang permesinan kapal.