Diharapkan dengan adanya upaya-upaya tersebut, tingkat penggunaan PPE oleh awak kapal dapat meningkat, sehingga risiko kecelakaan kerja selama bongkar muat dapat diminimalkan.
Implikasi dari hasil ini mendorong pentingnya pelatihan berbasis pengalaman dan jabatan dalam mendukung kepatuhan terhadap regulasi lingkungan maritim.
Secara keseluruhan, kurangnya dukungan perusahaan dan pengetahuan crew berkontribusi pada resiko keselamatan yang serius terkait tali tambat.
Faktor metode, yaitu SOP tidak konsisten serta verifikasi koordinasi belum optimal.
Saran yang diberikan meliputi penguatan jadwal inspeksi dan pelumasan, peningkatan kesadaran awak kapal, serta optimalisasi ketersediaan suku cadang seperti wire rope untuk mencegah penundaan.
Oleh karena itu, peningkatan pengawasan, evaluasi, serta pelatihan yang berstruktur sangat diperlukan guna meningkatkan efektivitas pembersihan ruang muat sesuai standar.
Penilitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan keselamatan pelayaran di perairan terbatas dan memperkuat implementasi P2TL secara efektif.
Nilai gap antara persepsi dengan kepentingan terendah ada pada dimensi keandalan, sebesar -0,09.
Sisanya, yaitu 79,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian
, menyematkan studi kasus maritim dan tugas analogis untuk menjembatani pembelajaran maatematika dengan kompetensi pelaut sebagaimana diamanatkan oleh standar IMO.